Upacara megedong-gedongan ini ditunjukkan kepada si cabang bayi yang sedang ada di dalam kandungan dan merupakan upacara pertama setelah kehamilan memasuki usia 5-7 bulan. Kehamilan dibawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna dan tidak boleh diberi upacara Manusa yadnya menurut lontar kuno dresthi.
Tujuan upacara megedong-gedongan adalah untuk membersihkan dan memohon keselamatan jiwa raga si bayi agar kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat. Pada upacara ini terdapat sebuah bangunan gedong yang dibuat dari daun janur dan didalamnya diisi sebuah bungkak kelapa gading yang digambar seorang bayi. Dimana gedong tersebut sebagai simbol kandungan dan bungkak merupakan simbul seorang bayi yang sedang ada di dalam kandungan.
Susunan upakara yang kecil
A. Upacara pembersihan : biyakala dan prayascita.
B. Untuk ayaban : sayut tututan, pengambiyan, peras, sodan + ketupat (anaman), dapetan dengan sesayut pamahayu tuyuh dan segehan di bawah.
C. Sesayut pamahayu tuwuh : sediakan tamas sesayut, raka-raka selengkapnya. Nasinya: 1 buah tumpeng kuning, kojong rangkadan dan ayam panggang.
Sampiyannya : nagasari, sesedep, wadah uyah, penyeneng, canang, pabresiyan payasan dan sedah woh.
Susunan upakara yang lebih besar
A. Upacara pembersihan : byakala, prayascita dan panglukatan dengan banten (peras, sodan + ketupat (anaman), daksina dan sesayut pangenteg bayu.
B. Untuk ayaban : sayut tututan, pengambiyan, peras, sodan + ketupat (anaman), dapetan, banten pegedongan matah dan segehan di bawah.
Banten pagedongan matah adalah satu buah bakul/paso yang berisi beras, kelapa, telur, benang putih, ketan, injin, pisang mentah, sudang (ikan teri), tingkih, pangi, bija ratus, pesel- peselan, tampelan. Bahan- bahan lain seperti isinan daksina.
C. Sesayut pengenteg bayu : sediakan tas sesayut dan raka-raka selengkapnya.
Nasinya : nasi maura berisi kacang saur di dalam 1 buah ceper janur maplekir, rerasmen diletakkan di tengah ceper, kojong rangkadan, 4 buah kwangen mengelilingi sudut ceper dan ditusukkan 1 tangkai cempaka putih dan 1 linting kapas. Bila upacara dimulai linting diberi minyak dan dinyalakan. Serta 4 buah tulung.
Sampiyannya : nagasari, sasedep, wadah uyah, penyeneng, pabresiyan payasan, canang dan sedah woh.
Persiapan lain:
1. Menyiapkan pemandian darurat yang sudah disucikan.
2. Matur piuning dengan menghaturkan sodan dan canang di semua pelinggih yang ada di rumah.
3. Menyiapkan perlengkapan upacara di hadapan sanggah kemulan seperti :
A. Benang hitam 1 tukel yang kedua ujungnya diikatkan pada cabang kayu dadap yang sudah diberi sasap.
B. Sebatang bambu buluh runcing (gelanggang). Dan sebatang bambu yang diisi benang hitam.
C. Daun kumbang diisi air dan ikan sawah yang hidup seperti belut, nyalian dan ketam.
D. Ceraken yang dibungkus dengan kain putih yang baru.
E. Meletakkan semua upakara megedong-gedongan di bale tempat upacara akan berlangsung.
Tata cara pelaksanaan upacara megedong-gedongan
1. Orang suci ngayabin semua banten megedong-gedongan disertai dengan prayascita semua pelinggih dan banten.
2. Wanita yang hamil beserta suami mabyakala dan maprasyascita.
3. Lanjut ke upakara di sanggah natah. Kedua cabang kayu dadap yang terikat dengan benang hitam ditancapkan dan dibentangkan di hadapan sanggah natah.
Wanita hamil menjungjung ceraken dan tangan kanan menjunjung daun kumbang yang berisi air dan ikan tadi. Sedangkan tangan kiri si wanita memegang sebatang bambu yang diikat dengan benang hitam.
4. Untuk si suami, tangan kirinya memegang benang dari sebatang bambu yang di bawa oleh wanita hamil dan tangan kanan si suami membawa bambu runcing.
5. Setelah itu sesajen segehan dihaturkan di natah untuk para Butha yang suka menggoda supaya kita tidak digoda.
6. Kemudian si suami dan istrinya berjalan mengitari kedua cabang kayu dadap yang telah disiapkan di hadapan sanggah natah sebanyak 3 kali. Saat berjalan si istri menghentak-hentakkan sebatang bambu yang ada di tangan kirinya.
7. Setelah kedua pasangan selesai mengitari cabang kayu dadap tersebut, sang suami menusuk daun kumbang yang berisi air dan ikan yang dijunjung si istri sampai air dan ikannya keluar.
8. Setelah itu pasangannya tersebut berjalan untuk memutuskan benang hitam yang dibentangkan pada kedua cabang kayu dadap.
9. Si suami beserta istri lanjut melakukan pemandian di pemandian darurat yang sudah disiapkan. Saat sang istri mandi, sang suami secara simbolis membersihkan pinggir areal pemandian sang istri dengan menggunakan sabit yang sudah diberi sasap. Hal ini bertujuan pembersihan jalan lahir si bayi.
10. Selesai mandi, sang istri berganti pakaian dan dilanjutkan dengan natab banten megedong-gedongan, sembahyang, dipercikan tirta dan diberi bija. Banten gedong yang dibuat dari janur dan berisi bungkak di letakkan di kamar bagian atas sedangkan banten pagedongan matah diletakkan dikamar bagian bawah.
11. Bertempat di sungai, dilanjutkan dengan acara menghayutkan daun talas yang berisi nasi berwarna berwajahkan manusa sebagai simbol bayi yang dilakukan oleh si istri didampingi suami.
12. Selesai
Lebih kurangnya dapat di pelajari di berbagai sumber lain. Semoga bermanfaat. ☺☺☺
Tidak ada komentar:
Posting Komentar